Total Tayangan Halaman

Minggu, 04 Desember 2011

TEKNOLOGI KOMPOS TEMPE DARI JEPANG


Sekitar lima tahun yang lalu, sektor pertanian Indonesia dihebohkan oleh teknologi pembuatan pupuk "Bokhasi" (artinya = kompos) dari Jepang. Bahan bakunya, sekam padi yang dibakar sampai menjadi arang (bukan abu), dalam tungku yang dirancang khusus. Arang sekam ini selanjutnya dicampur pupuk kandang dan dedak halus. Sebagai stater, digunakan bakteri yang dicampur gula. Biang bakteri yang disebut sebagai EM 4 ini diimpor langsung dari Jepang. Di pasar lokal, EM 4 kemasan 1 liter dijual dengan harga antara Rp 15.000,- sampai dengan Rp 20.000,- Yang menarik dari trend pupuk "Bokhasi" ini adalah cara pemasaran berikut promosinya yang luarbiasa bersemangat dengan fanatisme tinggi. Mirip dengan semangat penyebaran agama baru. Pokoknya pupuk Bokhasi ini bisa menggantikan semua pupuk yang ada. Bahkan bisa menanggulangi serangan hama dan penyakit. Hasil panen akan berlipatganda. Produk pertanian yang dihasilkannya lebih sehat karena bebas zat kimia. Itulah kehebatan promosi pupuk Bokhasi dengan EM 4 nya yang luarbiasa.
Dalam EM 4, ada sekitar 50 macam bakteri. Dengan adanya dedak, gula dan pupuk kandang, maka para bakteri itu akan berbiak dengan cepat sekali lalu segera mati. Bangkai bakteri berupa protein inilah yang akan menjadi unsur hara yang segera bisa diserap oleh akar tanaman. Prinsip ini mirip dengan yang terjadi pada pemberian urea (Nitrogen) dan gula atau karbohidrat padaternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba). Di kawasan kering seperti Gunung Kidul, DIY, masyarakat memberikan jerami padi dan tebon (batang jagung) kering kepada ternak ruminansia mereka. Sebagai pakan tambahan, mereka memberikan dedak, ampas singkong dan tetes tebu. Tahun 1950an, ketika pertama kali urea diperkenalkan sebagai pupuk nitrogen yang bisa menyuburkan tanaman, petani pun iseng memberikannya pada ternak mereka. Kalau tanaman diberi urea bisa subur, logika mereka sapi yang kurus-kurus pun akan menjadi gemuk kalau diberi urea. Ternyata benar. Sebab dalam lambung (rumen) ternak ruminansia memang selalu ada bakteri yang membantu mencerna rumput. Starter karbohidrat dan gula, ternyata tidak membantu bakteri ini berbiak cepat. Sebab masih diperlukan nitrogen. Dengan diberinya urea satu sendok makan per ekor per hari, maka bakteri itu akan berbiak cepat sekali dan segera mati. Bangkai bakteri berupa protein inilah yang segera diserap oleh perut sapi sebagai nutrisi bergizi tinggi.
Masyarakat Jepang sendiri, sebenarnya masih meragukan kehebatan pupuk Bokhasi. Pertama, dedak dan gula pasir terlalu mahal kalau dijadikan bahan pupuk. Selain itu efek samping dari menumpuknya berbagai jenis bakteri dalam tanah juga masih belum diketahui dampak jangka panjangnya. Sekarang-sekarang ini, masyarakat Jepang sudah mulai merasakan dampak negatif dari pupuk Bokhasi. Konon, efek sampingnya membuat partikel tanah jadi keras meskipun tetap remah. Sekarang mereka mulai memperkenalkan teknik pengomposan jerami padi dengan ragi tempe. Tempe adalah teknologi fermentasi produk karbohidrat seperti kedelai, bungkil dan lain-lain dengan bantuan kapang (jamur) Aspergillus aryzae, Rhizopus oryzae dan Rhizopus olygosporus. Teknologi ini sudah dikuasai oleh nenek moyang kita sejak ribuan tahun silam. Teknologi inilah yang sekarang dikembangkan untuk industri kompos di Jepang. Kompos dari bahan jerami yang dibusukkan oleh kapang ini akan jauh lebih sehat bagi kesuburan tanah. Selain itu, kapangnya sendiri merupakan nutrisi dengan asam amino esensial yang akan sangat menyehatkan tanaman.
Sebenarnya pupuk Bokhasi dengan bahan baku arang sekam sangat tidak rasional. Sebab energi yang masih ada dalam sekam tersebut dibuang sia-sia pada waktu dibakar. Jadi nutrisi dalam pupuk Bokhasi hanyalah barasal dari protein berupa "bangkai bakteri". Biaya produksi Bokhasi juga relatif tinggi. Sekitar Rp 250,- per kg. dengan skala produksi 25 ton per hari. Kalai skalanya diperkecil, maka biayanya akan semakin tinggi. Dengan biaya seesar itu, Bokhasi dijual di pasaran dengan harga minimal Rp 500,- per kg. Harga ini sangat tidak bersaing dengan pupuk kandang kotoran sapi yang kisaran harganya masih Rp 100,- sampai dengan Rp 150,- per kg. Itulah sebabnya munculnya teknologi pengomposan dengan bantuan kapang tempe menjadi sangat potensial untuk dikemangkan. Selain dengan teknologi Bokhasi, selama ini petani membuat kompos dari bahan baku selulosa limbah pertanian, dengan  bantuan stater berupa pupuk kandang, tanah dan urea. Untuk menetralkan pHnya, dicampurkan kapur pertanian. Apabila limbah pertanian tersebut dihancurkan, jangka waktu pematangan kompos  sekitar 3 bulan.
Di alam, pelapukan bahan organik terjadi akibat pembusukan oleh bakteri, kapang atau kombinasi keduanya. Namun kombinasi penghancuran selulosa oleh bakteri sekaligus kapang jarang sekali terjadi. Bahkan, penghancuran oleh dua bakteri dengan dua sifat berbeda pun juga tidak pernah terjadi. Misalnya, kalau bekteri aerob (perlu oksigen) berkembang, maka bakteri anaerob (tidak perlu oksigen) akan mati. Atau sebaliknya. Di Indonesia, terutama di kawasan penghasil padi seperti Pantura, jerami lebih sering dibakar. Energi yang masih tersimpan dalam selulosa itu akan hilang dalam bentuk panas. Di beberapa sentra pemeliharaan ternak sapi, jerami dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Ada pula yang memanfaatkan jerami padi ini sebagai bahan baku produksi jamur merang. Sekarang mulai timbul kesadaran di kalangan petani untuk memanfaatkan jerami menjadi kompos yang akan dikembalikan ke sawah-sawah mereka. Di kabupaten Sragen, Jawa Tengah, jerami hasil panen padi ditumpuk di tengah sawah dan dibiarkan membusuk secara alamiah menjadi kompos. Kompos alam ini akan digunakan pada penanaman padi musim berikutnya lagi.
Sebenarnya hampir semua selulosa bisa dimanfaatkan untuk bahan kompos. Misalnya tebon jagung. Batang dan daun serta pelepah pisang. Daun tebu, batang serta daun ubi jalar, batang serta daun kacang tanah, daun lamtoro, kaliandra, glirisidia, albizia  dan lain-lain. Klorofil daun tersebut terlebih dahulu harus dimatikan melalui pelayuan. Cara melayukannya bisa dengan dihamparkan di bawah panas matahari atau di bawah naungan. Limbah pertanian yang telah dilayukan, bisa langsung dikomposkan tanpa pencacahan atau dengan terlebih dahulu mencacahnya. Pencacahan bisa dilakukan dengan mesin pencacah (Choper) yang harganya berkisar antara Rp. 6.000.000,- sampai dengan Rp 10.000.000,- per unit dengan kapasitas cacah sekitar 300 kg per. jam. Kondisi limbah tersebut harus masih agak basah (lembab). Apabila limbah telah benar-benar kering, perlu disemprot air hingga sedikit basah. Selanjutnya ragi tempe (bisa juga tempenya langsung) dihancurkan dan dicampur dengan dedak halus. Proses penghancuran dan pencampuran dilakukan dengan sarung tangan dan dengan wadah yang tidak tercemar garam.
Selanjutnya, limbah pertanian yang telah dilayukan dan dicacah ditaburi adonan dedak dengan tempe tadi, lalu ditumpuk di tempat teduh dan ditutup plastik. Untuk mengomposkan 100 kg. limbah pertanian, diperlukan sekitar 2 kg dedak halus dan 1 bungkus tempe dalam kemasan plastik.  Proses fermentasi ini akan terjadi apabila suhu tumpukan mencapai 40 sd. 50° C. Hal ini bisa kita deteksi dengan maraba bagian luar dari tumpukan tersebut. Apabila terasa hangat, maka proses pengomposan sedang terjadi. Apabila suhunya tetap dingin, maka proses pengomposan tidak terjadi. Dalam waktu antara 5 hari sampai dengan 1 minggu, kompos tempe sudah matang. Tandanya, seluruh limbah pertanian itu akan ditumbuhi oleh miselium kapang berupa serabut berwarna keputih-putihan. Kompos ini tidak bisa langsung digunakan, melainkan masih perlu waktu agar tingkat pelapukannya sempurna. Biasanya diperlukan waktu sekitar 1 bulan agar kompos benar-benar matang.
Meskipun sama-sama menggunakan dedak sebagai bahan starter, kompos tempe  lebih murah dan lebih sederhana dibanding dengan Bokhasi. Sebab dalam Bokhasi, diperlukan pula starter berupa gula dan biang bakteri berupa EM 4.  Tempe sebagai biang kapang, relatif lebih murah dan lebih mudah didapatkan dibanding dengan EM 4.  Namun yang lebih jelas, pengaruh kompos tempe terhadap tanah pasti lebih aman dibandingkan dengan bakteri dalam Bokhasi. Sebenarnya, biang bakteri maupun kapang yang bisa dimanfaatkan untuk proses fermentasi dalam pembuatan kompos banyak sekali. Pengganti EM 4 misalnya, sudah bisa diproduksi oleh hampir semua lab. di fakultas pertanian perguruan tinggi di Indonesia. Namun EM 4 bisa mendominasi industri kompos karena faktor gengsi dan kemudahan mendapatkannya. Masyarakat kita cenderung tergila-gila pada produk impor, terutama yang berasal dari negara maju. Kecuali itu EM 4 sudah dikemas rapi, diberi merk dan didistribusikan ke mana-mana. Hingga masyarakat bisa memperolehnya dengan mudah. Sementara biang bakteri hasil lab perguruan tinggi masih dipasarkan secara terbatas.
Kendala utama kompos tempe bukan pada faktor harga serta kemudahan mendapatkan bahan staternya. Sebab harga tempe sangat murah dan bisa dibeli di manapun di Indonesia. Tetapi justru murah dan mudahnya mendapatkan inilah yang membuat gengsi tempe sebagai bahan starter menjadi kurang menarik. Itulah kelemahan bangsa kita dibanding dengan Jepang. Meskipun EM 4 adalah produk mereka yang sudah menelan investasi penelitian serta promosi besar, namun akhirnya mereka mengakui bahwa tempe yang sederhana dan murah dari Indonesia itulah yang justru lebih unggul. Sebelum diotak-atik sebagai bahan starter dalam proses fermentasi industri kompos, tempe telah dikenal oleh masyarakat Jepang sebagai makanan sehat bergizi tinggi. Untuk itu, pengusaha Jepang telah terlebih dahulu mempatenkannya. Di sana, menu tempe pasti kalah dibanding dengan ikan dan udang. Tetapi masyarakat Jepang memang luarbiasa kreatifitasnya. Tidak bisa mengangkat tempe sebagai makanan manusia yang massal, mereka memanfaatkannya untuk industri kompos.
Indonesia, sebenarnya sudah harus membangun industri kompos secara lebih serius. Bukan sekadar membangun industri pupuk urea. Industri pupuk urea, pestisida dan benih modern memang tetap penting dalam rangka memproduksi pangan secara masal dan murah. Namun dampak dari "revolusi hijau" ini adalah rusaknya lahan serta keseimbangan alam secara keseluruhan. Eropa, Amerika Serikat dan Jepang adalah negara-negara maju yang sudah mulai memikirkan pertanian yang sehat dengan memanfaatkan pupuk kompos. Di Taiwan dan Australia, agroindustri kompos merupakan lahan bisnis yang cukup menarik dan penting. Sebuah kawasan penghasil sayuran atau buah-buahan pasti memiliki pabrik kompos. Bangunan pabrik itu bisa seluas lapangan sepak bola. Truk-truk tronton keluar masuk untuk mengambil hasil serta mengirim bahan baku. Untuk membalik dan mengaduk-aduk material kompos tersebut, digunakan puluhan buldoser serta alat berat lainnya. Sebagai starter mereka mencari bakteri atau kapang  apa yang paling efektif serta efisien. Termasuk tempe kita pasti dipertimbangkannya pula. (F.R.) ***

Laptop Bambu Semarakkan Program 'Hijau'



Laptop
Laptop
Jakarta, Hampir semua negara belakangan rajin menyuarakan program 'hijau' dengan alasan menjaga kelestarian lingkungan. Nah, vendor PC punya cara tersendiri untuk mendukung program ini. Yaitu dengan memproduksi laptop yang berasal dari tanaman bambu.

Aksesoris bambu memang hanya dipakai pada bagian eksterior dari laptop besutan Asus ini. Meski demikian, produk tersebut digadang-gadang lebih ramah lingkungan.

Laptop bambu tersedia dalam ukuran layar 12,1 dan 11,1 inch. Asus juga membuat chasis unik yang dianggapnya bakal memudahkan ketika dilakukan daur ulang.

Ke depannya, seperti dilansir softpedia dan dikutip kilasberita.com, Senin (1/9/2008), penggunaan bahan baku bambu di tiap seri terbaru akan memberikan sentuhan khas masing-masing, seperti memiliki pattern natural tersendiri.

Dari sisi spesifikasi teknis, laptop bambu 11,1 inch dilengkapi dengan Express Chipset GM965 Intel, kartu memori DDR2 yang bisa digenjot hingga 4 GB, kartu grafis Intel GMA X3100 serta hardisk berkapasitas 80-120 GB.

Sementara model lainnya, dilengkapi prosesor Intel Core 2 Duo, kartu grafis NVIDIA GeForce 9300M, hardisk SATA 2,5 inch dengan kapasitas mulai 160 GB hingga 320 GB.

Sebagai tambahan, Asus juga menyediakan seri laptop bambu yang dilengkapi dengan teknologi Super Hybrid Engine. Dengan teknologi ini dapat meningkatkan daya tahan baterai lebih dari 70% serta performa sistem hingga 23%.

Sayangnya, produsen PC asal Taiwan ini masih belum mengungkap berapa harga yang dibanderol untuk satu unit dari laptop ini. (kilasberita.com/als/dtc)


    Aksi Internal Ramah Lingkungan


    1. Hemat Kertas Menuju ‘Paperless’
    2. Hemat Air
    3. Hemat Listrik
    4. Pemilahan Sampah Organik dan Non Organik
    5. Tidak Merokok di Tempat Kerja
    6. Pembuatan Biopori di Lingkungan Kantor
    7. Penggunaan Energi Alternatif Bagi BTS
    8. Green Office

    Sabtu, 26 November 2011

    MIKORIZA VESIKULAR ARBUSKULAR (MVA)

    Revolusi hijau sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produksi pangan di satu sisi telah berhasil meningkatkan produksi pertanian, namun di sisi lain seringkali kurang efektif dan membawa dampak negatif. Penggunaan input produksi yang sangat tinggi berupa penggunaan pupuk, fungisida, insektisida dan herbisida kimiawi pada rentang waktu tertentu dapat menyebabkan menurunnya produktivitas lahan dan pencemaran lingkungan yang berakibat lebih jauh pada terjadinya degradasi kualitas lahan dan kualitas lingkungan.
    Dengan kenyataan tersebut, maka usaha peningkatan produksi dan kualitas hasil pertanian harus dilaksanakan dengan sistem pertanian yang berkelanjutan dengan pengelolaan jangka panjang. Sistem tersebut harus ekonomis, baik bagi petani maupun masyarakat, namun tidak mengorbankan lingkungan, harus dapat diterima secara ekologi, sosial dan hukum.
    Orientasi pertanian modern yang mengejar hasil panen sebanyak-banyaknya dan kualitas hasil panen yang prima menjadikan para praktisi pertanian sangat tergantung pada penggunaan pupuk, akibatnya kebutuhan pupuk buatan (kimia) terus meningkat dari tahun ke tahun. Kelangkaan pupuk kimia pada musim-musim tertentu seringkali terjadi dan menjadi masalah di berbagai daerah. Pengurangan secara bertahap subsidi pupuk dan bahan bakar oleh pemerintah menambah berat permasalahan, karena berakibat mahalnya harga pupuk di tangan petani.
    Meningkatnya kesadaran manusia terhadap terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh aktivitas pertanian telah mendorong timbulnya paradigma baru, yaitu bagaimana mendapatkan hasil pertanian secara maksimal tanpa merusak lingkungan. Salah satu alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman adalah dengan memperbaiki kondisi tanah dan lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pengembangan teknologi pemupukan secara alamiah. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa mikroorganisme dapat digunakan secara efektif sebagai pupuk hayati (biofertilizer) untuk mengurangi penggunaan pupuk buatan. Salah satu cara untuk menggantikan sebagian atau seluruh fungsi pupuk buatan tersebut adalah dengan memanfatkan Jamur Mikoriza Vesikular Arbuskular (MVA).
    Mikoriza adalah sejenis jamur yang hidup bersimbiosis dengan akar tanaman, yang dikenal juga sebagai jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara fosfor (P). Hubungan simbiosis antara mikoriza dengan akar tanaman bersifat mutualistik, sehingga keduanya memperoleh keuntungan bagi kehidupannya.
    Jamur MVA merupakan salah satu kelompok endomikoriza dari familia Endogonaceae, yang memiliki ciri khusus yaitu adanya vesikula dan arbuskula. Vesikula berupa badan berbentuk bulat, oval atau tidak beraturan, yang terbentuk dari penggelembungan ujung hifa terminal di dalam atau di antara sel-sel korteks, berfungsi sebagai alat penyimpan cadangan makanan yang kemudian ditransfer ke inangnya dengan cara dicerna. Arbuskula adalah struktur seperti haustoria, merupakan struktur yang esensial pada semua asosiasi jamur MVA, berperan dalam transfer zat hara dua arah antara jamur yang menginfeksi dengan inangnya. Sumber karbon dan energi jamur MVA bergantung pada fotosintat tanaman inang, sedangkan jamur MVA membantu pertumbuhan tanaman inang dengan memasok fosfor.
    Mikoriza dapat berasosiasi dengan hampir semua tanaman pertanian dan membantu meningkatkan efisiensi penyerapan unsur hara (terutama P) pada lahan marginal. Tanaman bermikoriza dapat menyerap pupuk P lebih tinggi daripada tanaman yang tidak bermikoriza. Asosiasi tanaman kacang tanah dengan jamur MVA secara nyata meningkatkan kandungan P total tanaman. Tanaman yang bermikoriza memiliki kadar P total yang lebih tinggi daripada tanaman yang tidak bermikoriza. Menurut Jarstfer & Sylvia (1996), peningkatan penyerapan P terjadi dengan (1) memperluas jangkauan penyerapan P, karena adanya hifa eksternal yang dapat mencapai 8 cm di luar sistem perakaran, (2) eksploitasi sampai ke pori mikro, karena kecilnya diameter hifa eksternal yang kurang dari 20% dari diameter bulu-bulu akar, dan (3) menambah luas permukaan sistem penyerapan.
    Keuntungan lain dari pemanfaatan mikoriza sebagai pupuk hayati adalah meningkatkan penyerapan air dan toleransi tanaman terhadap cekaman kekeringan dan keracunan logam, melindungi tanaman dari serangan patogen akar, memperbaiki struktur tanah dan tidak mencemari lingkungan, serta aplikasinya cukup dilakukan sekali seumur tanaman.
    Penggunaan mikoriza merupakan kebutuhan ekologi, aman dipakai (bukan patogen), tidak menyebabkan pencemaran lingkungan, berperan aktif dalam siklus hara, dan dapat memperbaiki status kesuburan tanah dengan kemampuannya mengekstraksi unsur-unsur hara yang terikat.
    Pupuk mikoriza umumnya berupa spora dan potongan akar yang terinfeksi jamur dan dicampur dengan zeolit  sebagai media pembawa, efektif digunakan pada saat tanaman masih di persemaian, karena akarnya belum mengalami penebalan. Pemberian dilakukan dengan cara menaburkannya pada lubang sebelum penanaman, menempelkan pupuk atau akar terinfeksi pada akar tanaman muda, atau mencampur mikoriza pada tanah untuk pembibitan tanaman.
    Oleh: Dra. Ch. Endang Purwaningsih, M.Si.
    Prodi Biologi, Fakultas MIPA
    Universitas Katolik Widya Mandala Madiun

    6 ciri orang dewasa

    Banyak ciri yang bisa dilihat, namun setidaknya ada enam ciri yang begitu nampak dari luar. Enam ciri itu adalah :

    1. Diam Aktif
    Ciri khas umat Dewasa diawali dengan Diam Aktif yaitu kemampuan untuk menahan diri dalam berkomentar. Orang yang memiliki kedewasaan dapat dilihat dari sikap dan kemampuannya dalam mengendalikan lisannya, seorang anak kecil, saudaraku apa yang dia lihat biasanya selalu dikomentari.
    Orang tua yang kurang dewasa mulutnya sangat sering berbunyi, semua hal dikomentari.,ketika dia melihat sesuatu langsung dipastikan akan dikomentari,ketika menonton televisi misalnya ; komentar dia akan mengalahkan suara dari televisi yang dia tonton . Penonton tv yang dewasa itu senantiasa bertafakur, acara yang dia tonton senantiasa direnungkan (tentunya acara yang bermanfaat) dan memohon dibukakan pintu hikmah kepada Allah, Subhanalloh.

    2. Empati (memahami perasaan)
    Ciri kedewasaan selanjutnya dapat dilihat dari Empati. Anak-anak biasanya belum dapat meraba perasaan orang lain, orang yang bertambah umurnya tetapi tidak dapat meraba perasaan orang lain berarti belum dapat disebut dewasa. Kedewasan seseorang dapat dilihat dari keberanian melihat dan meraba perasaan orang lain. Seorang ibu yang dewasa dan bijaksana dapat dilihat dari sikap terhadap pembantunya yaitu tidak semena-mena menyuruh, walaupun sudah merasa menggajinya tetapi bukan berarti berkuasa,bukankah di kantor ketika lembur pasti ingin dibayar overtime ? tetapi pembantu lembur tidak ada overtime ? semakin orang hanya mementingkan perasaannya saja maka akan semakin tidak bijaksana. Semakin orang bisa meraba penderitaan orang lain Insya Allah akan semakin bijak. Percayalah tidak akan bijaksana orang yang hidupnya hanya memikirkan perasaannya sendiri.

    3. Hati-hati (wara')
    Orang yang dewasa, cirinya hati-hati (Wara’),dalam bertindak. Orang yang dewasa benar-benar berhitung tidak hanya dari benda, tapi dari waktu ; tiap detik,tiap tutur kata , dia tidak mau jika harus menanggung karena salah dalam mengambil sikap. Anak-anak atau remaja biasanya sangat tidak hati-hati dalam bercakap dan mengambil keputusan.Orang yang bersikap atau memiliki kepribadian dewasa (wara’) dapat dilihat dalam kehati-hatian memilih kata, mengambil keputusan,mengambil sikap, karena orang yang tidak dewasa cenderung untuk bersikap ceroboh.

    4. Sabar
    Orang yang dewasa terlihat dalam kesabarannya (sabar), kita ambil contoh ; didalam rumah
    seorang ibu mempunyai 3 orang anak, yang satu menangis, kemudian yang lainnya pun ikut menangissehingga lama-kelamaan menjadi empat orang yang menangis , mengapa ? karena ternyata ibunyamenangis pula. Ciri orang yang dewasa adalah sabar, dalam situasi sesulit apapun lebih tenang,mantap dan stabil.

    5. Tanggung jawab
    seseorang yang dewasa benar-benar mempunyai sikap yang amanah, memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab. Untuk melihat kedewasaan seseorang dapat dilihat dari kemampuannya bertanggungjawab, sebagai contoh ; seorang ayah dapat dinilai bertanggung jawab atau tidak yaitu dalam cara mencari nafkah yang halal dan mendidik anak istrinya ? Bukan masalah kehidupan dunia ,yang menjadi masalah mampu tidak mempertanggungjawabkan anak-anak ketika pulang ke akherat nanti ? Ke surga atau neraka? Oleh karena itu orang tua harus bekerja keras untuk menjadi jalan kesuksesan anak-anaknya di dunia dan akherat.

    6. Motivator
    Kesuksesan kita adalah bagaimana kita bisa memompa diri kita dan menyukseskan orang-orang disekitar kita, tidak hanya sekedar bisa menilai dan menyalahkan. kalau ingin tahu kesuksesan kita coba lihat perkembangan keluarga kita, istri dan anak-anak kita maju tidak? lihat sanak saudara kita pada maju tidak? Jangan sampai kita sendirian yang maju, tapi sanak saudara kita hidup dalam kesulitan, ekonominya seret, pendidikan seret.,sedang kita tidak ada kepedulian. Berarti itu sebuah kegagalan.,kedewasaan seseorang itu,dilihat dari bagaimana kemampuan memegang amanah

    Jadilah Pria Dewasa

    Bagaimana cara seorang pria meyakinkan kekasihnya bahwa dialah sosok yang dewasa? Jawabannya simple, kemampuan untuk mengasihi dengan cara yang tidak egois adalah sebuah tanda kedewasan seorang pria.

    Lalu apakah Anda sudah termasuk pria dewasa? sebaiknya Anda mengetahui ciri-ciri pria yang belum dewasa atau masih memiliki sifat kekanak-kanakan berikut ini :
    1. Mudah Cemburu
    Pria yang mudah cemburu takut untuk kehilangan sesuatu atau seseorang yang dicintainya karena orang tersebut memenuhi kebutuhannya adalah salah satu ciri pria tidak dewasa.
    2. Iri Hati
    Iri hati timbul karena keinginan memiliki apa yang menjadi milik orang lain. Dia hanya memikirkan kebahagiannya namun tidak bisa berbahagia dengan orang lain.
    3. Mudah Marah
    Sifat mudah marah atau yang tersulut emosi biasanya timbul karena kekacauan batin dan rasa frustasi karena tidak dapat mengendalikan orang lain atau situasi yang tidak diinginkannya. Dia tidak memiliki kemampuan untuk menerima sesuatu yang terjadi diluar keinginannya.
    4. Kesepian
    Sifat kesepian timbul karena pria tersebut bergantung pada orang lain untuk kebahagiaan dirinya.
    5. Banyak Ketakutan
    Pria ini biasanya sering membayangkan atau merasakan bahwa kebutuhan dan sasarannya tudak akan terpenuhi atau tercapai.

    Jumat, 04 Februari 2011

    bioteknologi

    Energi Biru Dari Kotoran Ternak

    Bahan organik dimasukkan ke dalam ruangan tertutup kedap udara (disebut Digester) sehingga bakteri anaerob  akan   membusukkan  bahan  organik  tersebut yang   kemudian menghasilkan   gas (disebut Biogas). Biogas yang telah  terkumpul di dalam digester   selanjutnya dialirkan  melalui pipa   penyalur gas menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya.
    Komposisi gas yang terdapat di dalam Biogas dapat dilihat pada tabel berikut:
    Jenis GasVolume (%)
    Methana (CH4)40 – 70
    Karbondioksida (CO2)30 – 60
    Hidrogen (H2)0 – 1
    Hidrogen Sulfida (H2S)0 – 3
    Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu Biogas   sangat cocok  digunakan  sebagai  bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan pengganti  minyak  tanah, LPG, butana, batubara, maupun   bahan-bahan lain yang berasal
    dari fosil.
    Biogas  dapat  dipergunakan  dengan  cara  yang    sama  seperti  gas-gas mudah terbakar yang lain. Pembakaran biogas dilakukan dengan mencampurnya dengan sebagian oksigen (O2). Namun demi-
    kian, untuk  mendapatkan  hasil  pembakaran  yang  optimal, perlu  dilakukan  pra  kondisi sebelum Biogas dibakar yaitu melalui proses pemurnian/penyaringan karena Biogas   mengandung   beberapa
    gas lain yang tidak  menguntungkan. Sebagai  salah   satu contoh, kandungan gas Hidrogen Sulfida yang tinggiyang terdapat  dalam Biogas  jika dicampur  dengan Oksigen dengan perbandingan 1:20, maka  akan menghasilkan gas yang sangat mudah meledak. Tetapi sejauh ini belum pernah dilapor-
    kan terjadinya ledakan pada sistem Biogas sederhana. 
    Sumber:Majalah Kampus Genta
    Edisi 117, Thn XXXIII /27 Maret 1998
    halaman 35-38

    Rabu, 26 Januari 2011

    HM Soeharto Icon Kemajuan Pertanian Indonesia

    HM Soeharto Icon Kemajuan Pertanian Indonesia

    Oleh: Slamet Iman Santoso
    Subur sarwo tinandur, murah sarwo tinuku. Ungkapan ini mungkin cocok bagi bangsa Indonesia kala berjuang mencapai swasembada beras di bawah kepemimpinan Bapak HM Soeharto. Pertanian maju dengan berlimpah hasil buminya, perekonomian pun kokoh dengan kemampuan daya beli rakyat terhadap barang-barang kebutuhan pokoknya.
    Kondisi geografis dan geomorfologis Indonesia, amat memungkinkan menjadikannya super power pertanian dunia. Kepulauan yang membentang disepanjang khatulistiwa menjadikannya beriklim tropis. Iklim ini sangat mendukung tumbuhnya berbagai tanaman pangan dunia. Musim yang dikenal hanya 2 yaitu penghujan dan panas, memungkinkan pertaniannya sustainable. Posisi inilah yang menghantarkan Indonesia sebagai negara tropis-agraris. Tidak terbantahkan kalau Koes Plus menyairkan dalam lagunya, bukan lautan tapi kolam susu, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.
    Menurut data FAO (2001), populasi petani aktif di Indonesia adalah 24,7 %. Sedangkan luas lahan persawahan Indonesia sekitar 11,6 juta hektar. Jadi satu orang petani mengerjakan lahan padi sekitar 0,23 hektar. Dari data Depertan tahun 2000, 88% rumah tangga petani (RTP) hanya menguasai lahan kurang dari 0,5 hektar.
    Dengan demikian luasan lahan yang dikuasai dan dikerjakan petani cenderung menurun. Hal ini disebabkan ekstensifikasi lahan pertanian kurang maksimal. Belum lagi persoalan alih fungsi lahan persawahan menjadi bangunan-bangunan fisik, masih kerap terjadi. Menurut Hermanto, Direktur Akademik Pascasarjana IPB bahwa angka konversi lahan pertanian tiap tahun mencapai 100.000 hektar. Sedangkan sawah irigasi mencapai 40.000 hekatar per tahun. Disamping itu, budaya bagi-bagi tanah pertanian untuk waris masih sangat kental. Sehingga pemerintah tidak memiliki cukup kuasa mempertahankan luasan lahan yang telah siap pakai.
    Menurut sensus pertanian, tahun 1983 jumlah buruh tani dan petani gurem mencapai 9,53 juta. Jumlah ini meningkat pada tahun 1993, yaitu mencapai 10,93 juta. Peningkatan ini bukan menunjukkan hal yang positif. Karena petani gurem adalah petani yang memiliki luasan garapan kurang dari 0,2 hektar. Akibat meningkatnya jumlah petani gurem bermakna penyempitan lahan-lahan pertanian. Sehingga petani tidak mendapatkan hasil yang mencukupi untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup sehari-hari.
    Rendahnya nilai tukar petani (NTP) memicu merosotnya produktivitasnya. Angkatan kerja pada sektor ini juga menurun dari tahun ke tahun. Kebanyakan mereka memilih bekerja di pabrik atau industri yang lebih menjanjikan.
    Permainan pasar yang dilakukan oleh para tengkulak juga sering merugikan para petani. Murahnya hasil pertanian dan mahalnya kebutuhan pokok sehari-hari menyebabkan ketimpangan sosial yang cukup mencolok. Akibatnya banyak lahan-lahan yang ditinggalkan ataupun dialih fungsikan.
    Pertanian pernah menjadi soko guru perekonomian bangsa Indonesia. Sebuah kewajaran bagi Indonesia sebagai negara tropis-agraris, bila menempatkan pertanian sebagai program utama pembangunan perekonomiannya. Swasembada pangan yang pernah kita raih tahun 1984 merupakan prestasi besar bangsa Indonesia. Program lima tahunan yang dirangkum dalam Repelita, menetapkan sasaran pembangunan yang jelas. Sejak diundangkannya 1 April 1969, pembangunan dititik beratkan pada bidang pertanian, terutama pada produksi pangan. Penataan kembali pondasi perekonomian negara yang terpuruk sejak terjadinya chaos 1965, bukan suatu hal yang mudah.
    Program-program inmas (intensifikasi massal) dan bimas (bimbingan massal) digulirkan untuk mengakselerasi pencapaian target pembangunan. Petani tradisional tidak mudah untuk diajak menggunakan cara-cara bertani yang modern. Maka pemerintah membuat lahan-lahan percontohan yang dikelola secara modern.
    Ekstensifikasi pertanian dalam rangka memperluas lahan-lahan pertanian secara nyata di programkan pada Pelita ke 3. Program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah bukan hanya untuk pemerataan populasi penduduk, namun berfungsi pula sebagai program ektensifikasi pertanian.
    Pengelolaan lahan gambut di Kalimantan Timur seluas sejuta ha, dirubah menjadi lahan pertanian. Unit-unit percontohan pengelolaan lahan gambut pun di adakan dengan penerapan-penerapan teknologi pertanian lahan gambut. Di pulau Sumatra tepatnya di Karang Agung Ulu dikembangkan upaya pertanian pasang surut. Pada akhirnya intensifikasi dan ektensifikasi pertanian mengantarkan Indonesia menjadi negara pengekspor beras bukan pengimpor beras.
    Prestasi yang membanggakan ini di respon baik oleh FAO. Bapak Soeharto diminta untuk berpidato memaparkan pengalaman-pengalamannya dalam menerapkan teknologi pertanian hingga tercapainya swasembada pangan. Anak terbaik bangsa ini pun meraih penghargaan dari dunia atas keberhasilannya. Sebagai wujud syukurnya, rakyat dihimbau untuk mengumpulkan gabah yang akan disumbangkan kepada bangsa-bangsa yang mengalami kelaparan. Saat itu terkumpul sebanyak 100.000 ton yang dialokasikan khususnya bagi bangsa Afrika.
    Presiden seorang petani
    Potensi alam sebagai karunia Tuhan merupakan modal dasar pembangunan nasional. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dengan kekayaan alam yang melimpah ruah, di darat maupun di laut. Sebagai negara agraris dan bahari sudah semestinya meletakkan perekonomian bangsa pada sektor pertanian darat dan pertanian laut (pertanian terpadu) sebagai kekuatan lokal. Sebuah kenaifan saja bila bangsa ini tidak mampu untuk berdikari. Presiden sebagai menejer seyogyanya menghimpun segenap kekuatan untuk mengelola sumber daya alam, menjadi pilar-pilar perekonomian yang kokoh.
    Menejemen yang tangguh dibangun oleh pribadi yang memahami persoalan secara detail. Perekonomian yang diletakkan diatas kekuatan lokal bangsa ini, akan mampu eksis dan memiliki resistansi tinggi dalam menghadapi krisis global. Indonesia telah membuktikan di era pemerintahan bapak Soeharto, hingga kita mencapai swasembada. Sebuah bukti empiris bahwa bangsa ini mampu untuk bangkit dan maju. Tidak bisa dipungkiri Soeharto telah menjadi ikon kemajuan pertanian Indonesia. Pertanyaannya, mampukah bangsa ini kembali meraih kejayaan dan keemasannya?
    Sekelompok masyarakat atau bangsa adalah cerminan pemimpinnya. Pemimpin yang tegas dan cerdas akan membawa bangsanya memiliki karakter kuat dan maju. Tegas berarti memiliki personality yang kuat, dedikasi, integrasi dan loyalitas pada bangsnya. Cerdas sebagai pemimpin adalah mampu memahami detail persoalan bangsanya dan memiliki solusi kongkrit atas persoalan itu.
    Bila bangsa ini menginginkan lepas dari krisis dan mampu bersaing di tataran internasional, maka harus diawali saat penentuan sosok pemimpin Indonesia masa depan. Presiden Indonesia sudah seharusnya memiliki pengetahuan dan kemampuan riil pada sektor pertanian. Kemampuannya dibuktikan dengan keberhasilannya dalam pengelolaan lahan-lahan pertanian dan perhatiannya pada sektor tersebut. Modal ini akan sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa ini berbasis kekuatan lokal.
    Presiden Indonesia ke depan sudah sepantasnya mengangkat kembali harkat dan martabat petani. Pemerintah kembali menyusun rancangan dan target-target (Repelita), yang mengarah pada peningkatan pada sektor pertanian. Citra petani yang terkesan menempati strata bawah, harus dirobah dengan modernisasi sistem pengolahan dan pengaturan sistem pemasaran hasil pertanian. Nilai tukar petani (NTP) harus memiliki posisi tawar yang tinggi. Hal ini akan menstimulus para petani untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas pertaniannya. Konsekuensinya para petani tidak dapat seenaknya menjual, mewariskan dan mengalih fungsikan lahan-lahan produktifnya. Presiden pun harus memangkas semua bentuk kebijakan yang kontra produktif terhadap pembangunan di sektor pertanian. Perhatian yang intens dari sang Presiden diperlukan dalam bentuk support sistem, regulasi dan kebijakan. Presiden yang sekaligus petani, akan konsisten membangun bangsa ini dengan berbasis kekuatan lokal. Satu pencapaian yang dicita-citakan adalah baldatun thoyibatun warobun ghofur. Yaitu negara yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.
    (Penulis adalah staff pengajar Sosiologi di PKBM Sekolah Kita Cibanoang-Jawa Barat )