Total Tayangan Halaman

Minggu, 04 Desember 2011

TEKNOLOGI KOMPOS TEMPE DARI JEPANG


Sekitar lima tahun yang lalu, sektor pertanian Indonesia dihebohkan oleh teknologi pembuatan pupuk "Bokhasi" (artinya = kompos) dari Jepang. Bahan bakunya, sekam padi yang dibakar sampai menjadi arang (bukan abu), dalam tungku yang dirancang khusus. Arang sekam ini selanjutnya dicampur pupuk kandang dan dedak halus. Sebagai stater, digunakan bakteri yang dicampur gula. Biang bakteri yang disebut sebagai EM 4 ini diimpor langsung dari Jepang. Di pasar lokal, EM 4 kemasan 1 liter dijual dengan harga antara Rp 15.000,- sampai dengan Rp 20.000,- Yang menarik dari trend pupuk "Bokhasi" ini adalah cara pemasaran berikut promosinya yang luarbiasa bersemangat dengan fanatisme tinggi. Mirip dengan semangat penyebaran agama baru. Pokoknya pupuk Bokhasi ini bisa menggantikan semua pupuk yang ada. Bahkan bisa menanggulangi serangan hama dan penyakit. Hasil panen akan berlipatganda. Produk pertanian yang dihasilkannya lebih sehat karena bebas zat kimia. Itulah kehebatan promosi pupuk Bokhasi dengan EM 4 nya yang luarbiasa.
Dalam EM 4, ada sekitar 50 macam bakteri. Dengan adanya dedak, gula dan pupuk kandang, maka para bakteri itu akan berbiak dengan cepat sekali lalu segera mati. Bangkai bakteri berupa protein inilah yang akan menjadi unsur hara yang segera bisa diserap oleh akar tanaman. Prinsip ini mirip dengan yang terjadi pada pemberian urea (Nitrogen) dan gula atau karbohidrat padaternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba). Di kawasan kering seperti Gunung Kidul, DIY, masyarakat memberikan jerami padi dan tebon (batang jagung) kering kepada ternak ruminansia mereka. Sebagai pakan tambahan, mereka memberikan dedak, ampas singkong dan tetes tebu. Tahun 1950an, ketika pertama kali urea diperkenalkan sebagai pupuk nitrogen yang bisa menyuburkan tanaman, petani pun iseng memberikannya pada ternak mereka. Kalau tanaman diberi urea bisa subur, logika mereka sapi yang kurus-kurus pun akan menjadi gemuk kalau diberi urea. Ternyata benar. Sebab dalam lambung (rumen) ternak ruminansia memang selalu ada bakteri yang membantu mencerna rumput. Starter karbohidrat dan gula, ternyata tidak membantu bakteri ini berbiak cepat. Sebab masih diperlukan nitrogen. Dengan diberinya urea satu sendok makan per ekor per hari, maka bakteri itu akan berbiak cepat sekali dan segera mati. Bangkai bakteri berupa protein inilah yang segera diserap oleh perut sapi sebagai nutrisi bergizi tinggi.
Masyarakat Jepang sendiri, sebenarnya masih meragukan kehebatan pupuk Bokhasi. Pertama, dedak dan gula pasir terlalu mahal kalau dijadikan bahan pupuk. Selain itu efek samping dari menumpuknya berbagai jenis bakteri dalam tanah juga masih belum diketahui dampak jangka panjangnya. Sekarang-sekarang ini, masyarakat Jepang sudah mulai merasakan dampak negatif dari pupuk Bokhasi. Konon, efek sampingnya membuat partikel tanah jadi keras meskipun tetap remah. Sekarang mereka mulai memperkenalkan teknik pengomposan jerami padi dengan ragi tempe. Tempe adalah teknologi fermentasi produk karbohidrat seperti kedelai, bungkil dan lain-lain dengan bantuan kapang (jamur) Aspergillus aryzae, Rhizopus oryzae dan Rhizopus olygosporus. Teknologi ini sudah dikuasai oleh nenek moyang kita sejak ribuan tahun silam. Teknologi inilah yang sekarang dikembangkan untuk industri kompos di Jepang. Kompos dari bahan jerami yang dibusukkan oleh kapang ini akan jauh lebih sehat bagi kesuburan tanah. Selain itu, kapangnya sendiri merupakan nutrisi dengan asam amino esensial yang akan sangat menyehatkan tanaman.
Sebenarnya pupuk Bokhasi dengan bahan baku arang sekam sangat tidak rasional. Sebab energi yang masih ada dalam sekam tersebut dibuang sia-sia pada waktu dibakar. Jadi nutrisi dalam pupuk Bokhasi hanyalah barasal dari protein berupa "bangkai bakteri". Biaya produksi Bokhasi juga relatif tinggi. Sekitar Rp 250,- per kg. dengan skala produksi 25 ton per hari. Kalai skalanya diperkecil, maka biayanya akan semakin tinggi. Dengan biaya seesar itu, Bokhasi dijual di pasaran dengan harga minimal Rp 500,- per kg. Harga ini sangat tidak bersaing dengan pupuk kandang kotoran sapi yang kisaran harganya masih Rp 100,- sampai dengan Rp 150,- per kg. Itulah sebabnya munculnya teknologi pengomposan dengan bantuan kapang tempe menjadi sangat potensial untuk dikemangkan. Selain dengan teknologi Bokhasi, selama ini petani membuat kompos dari bahan baku selulosa limbah pertanian, dengan  bantuan stater berupa pupuk kandang, tanah dan urea. Untuk menetralkan pHnya, dicampurkan kapur pertanian. Apabila limbah pertanian tersebut dihancurkan, jangka waktu pematangan kompos  sekitar 3 bulan.
Di alam, pelapukan bahan organik terjadi akibat pembusukan oleh bakteri, kapang atau kombinasi keduanya. Namun kombinasi penghancuran selulosa oleh bakteri sekaligus kapang jarang sekali terjadi. Bahkan, penghancuran oleh dua bakteri dengan dua sifat berbeda pun juga tidak pernah terjadi. Misalnya, kalau bekteri aerob (perlu oksigen) berkembang, maka bakteri anaerob (tidak perlu oksigen) akan mati. Atau sebaliknya. Di Indonesia, terutama di kawasan penghasil padi seperti Pantura, jerami lebih sering dibakar. Energi yang masih tersimpan dalam selulosa itu akan hilang dalam bentuk panas. Di beberapa sentra pemeliharaan ternak sapi, jerami dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Ada pula yang memanfaatkan jerami padi ini sebagai bahan baku produksi jamur merang. Sekarang mulai timbul kesadaran di kalangan petani untuk memanfaatkan jerami menjadi kompos yang akan dikembalikan ke sawah-sawah mereka. Di kabupaten Sragen, Jawa Tengah, jerami hasil panen padi ditumpuk di tengah sawah dan dibiarkan membusuk secara alamiah menjadi kompos. Kompos alam ini akan digunakan pada penanaman padi musim berikutnya lagi.
Sebenarnya hampir semua selulosa bisa dimanfaatkan untuk bahan kompos. Misalnya tebon jagung. Batang dan daun serta pelepah pisang. Daun tebu, batang serta daun ubi jalar, batang serta daun kacang tanah, daun lamtoro, kaliandra, glirisidia, albizia  dan lain-lain. Klorofil daun tersebut terlebih dahulu harus dimatikan melalui pelayuan. Cara melayukannya bisa dengan dihamparkan di bawah panas matahari atau di bawah naungan. Limbah pertanian yang telah dilayukan, bisa langsung dikomposkan tanpa pencacahan atau dengan terlebih dahulu mencacahnya. Pencacahan bisa dilakukan dengan mesin pencacah (Choper) yang harganya berkisar antara Rp. 6.000.000,- sampai dengan Rp 10.000.000,- per unit dengan kapasitas cacah sekitar 300 kg per. jam. Kondisi limbah tersebut harus masih agak basah (lembab). Apabila limbah telah benar-benar kering, perlu disemprot air hingga sedikit basah. Selanjutnya ragi tempe (bisa juga tempenya langsung) dihancurkan dan dicampur dengan dedak halus. Proses penghancuran dan pencampuran dilakukan dengan sarung tangan dan dengan wadah yang tidak tercemar garam.
Selanjutnya, limbah pertanian yang telah dilayukan dan dicacah ditaburi adonan dedak dengan tempe tadi, lalu ditumpuk di tempat teduh dan ditutup plastik. Untuk mengomposkan 100 kg. limbah pertanian, diperlukan sekitar 2 kg dedak halus dan 1 bungkus tempe dalam kemasan plastik.  Proses fermentasi ini akan terjadi apabila suhu tumpukan mencapai 40 sd. 50° C. Hal ini bisa kita deteksi dengan maraba bagian luar dari tumpukan tersebut. Apabila terasa hangat, maka proses pengomposan sedang terjadi. Apabila suhunya tetap dingin, maka proses pengomposan tidak terjadi. Dalam waktu antara 5 hari sampai dengan 1 minggu, kompos tempe sudah matang. Tandanya, seluruh limbah pertanian itu akan ditumbuhi oleh miselium kapang berupa serabut berwarna keputih-putihan. Kompos ini tidak bisa langsung digunakan, melainkan masih perlu waktu agar tingkat pelapukannya sempurna. Biasanya diperlukan waktu sekitar 1 bulan agar kompos benar-benar matang.
Meskipun sama-sama menggunakan dedak sebagai bahan starter, kompos tempe  lebih murah dan lebih sederhana dibanding dengan Bokhasi. Sebab dalam Bokhasi, diperlukan pula starter berupa gula dan biang bakteri berupa EM 4.  Tempe sebagai biang kapang, relatif lebih murah dan lebih mudah didapatkan dibanding dengan EM 4.  Namun yang lebih jelas, pengaruh kompos tempe terhadap tanah pasti lebih aman dibandingkan dengan bakteri dalam Bokhasi. Sebenarnya, biang bakteri maupun kapang yang bisa dimanfaatkan untuk proses fermentasi dalam pembuatan kompos banyak sekali. Pengganti EM 4 misalnya, sudah bisa diproduksi oleh hampir semua lab. di fakultas pertanian perguruan tinggi di Indonesia. Namun EM 4 bisa mendominasi industri kompos karena faktor gengsi dan kemudahan mendapatkannya. Masyarakat kita cenderung tergila-gila pada produk impor, terutama yang berasal dari negara maju. Kecuali itu EM 4 sudah dikemas rapi, diberi merk dan didistribusikan ke mana-mana. Hingga masyarakat bisa memperolehnya dengan mudah. Sementara biang bakteri hasil lab perguruan tinggi masih dipasarkan secara terbatas.
Kendala utama kompos tempe bukan pada faktor harga serta kemudahan mendapatkan bahan staternya. Sebab harga tempe sangat murah dan bisa dibeli di manapun di Indonesia. Tetapi justru murah dan mudahnya mendapatkan inilah yang membuat gengsi tempe sebagai bahan starter menjadi kurang menarik. Itulah kelemahan bangsa kita dibanding dengan Jepang. Meskipun EM 4 adalah produk mereka yang sudah menelan investasi penelitian serta promosi besar, namun akhirnya mereka mengakui bahwa tempe yang sederhana dan murah dari Indonesia itulah yang justru lebih unggul. Sebelum diotak-atik sebagai bahan starter dalam proses fermentasi industri kompos, tempe telah dikenal oleh masyarakat Jepang sebagai makanan sehat bergizi tinggi. Untuk itu, pengusaha Jepang telah terlebih dahulu mempatenkannya. Di sana, menu tempe pasti kalah dibanding dengan ikan dan udang. Tetapi masyarakat Jepang memang luarbiasa kreatifitasnya. Tidak bisa mengangkat tempe sebagai makanan manusia yang massal, mereka memanfaatkannya untuk industri kompos.
Indonesia, sebenarnya sudah harus membangun industri kompos secara lebih serius. Bukan sekadar membangun industri pupuk urea. Industri pupuk urea, pestisida dan benih modern memang tetap penting dalam rangka memproduksi pangan secara masal dan murah. Namun dampak dari "revolusi hijau" ini adalah rusaknya lahan serta keseimbangan alam secara keseluruhan. Eropa, Amerika Serikat dan Jepang adalah negara-negara maju yang sudah mulai memikirkan pertanian yang sehat dengan memanfaatkan pupuk kompos. Di Taiwan dan Australia, agroindustri kompos merupakan lahan bisnis yang cukup menarik dan penting. Sebuah kawasan penghasil sayuran atau buah-buahan pasti memiliki pabrik kompos. Bangunan pabrik itu bisa seluas lapangan sepak bola. Truk-truk tronton keluar masuk untuk mengambil hasil serta mengirim bahan baku. Untuk membalik dan mengaduk-aduk material kompos tersebut, digunakan puluhan buldoser serta alat berat lainnya. Sebagai starter mereka mencari bakteri atau kapang  apa yang paling efektif serta efisien. Termasuk tempe kita pasti dipertimbangkannya pula. (F.R.) ***

Laptop Bambu Semarakkan Program 'Hijau'



Laptop
Laptop
Jakarta, Hampir semua negara belakangan rajin menyuarakan program 'hijau' dengan alasan menjaga kelestarian lingkungan. Nah, vendor PC punya cara tersendiri untuk mendukung program ini. Yaitu dengan memproduksi laptop yang berasal dari tanaman bambu.

Aksesoris bambu memang hanya dipakai pada bagian eksterior dari laptop besutan Asus ini. Meski demikian, produk tersebut digadang-gadang lebih ramah lingkungan.

Laptop bambu tersedia dalam ukuran layar 12,1 dan 11,1 inch. Asus juga membuat chasis unik yang dianggapnya bakal memudahkan ketika dilakukan daur ulang.

Ke depannya, seperti dilansir softpedia dan dikutip kilasberita.com, Senin (1/9/2008), penggunaan bahan baku bambu di tiap seri terbaru akan memberikan sentuhan khas masing-masing, seperti memiliki pattern natural tersendiri.

Dari sisi spesifikasi teknis, laptop bambu 11,1 inch dilengkapi dengan Express Chipset GM965 Intel, kartu memori DDR2 yang bisa digenjot hingga 4 GB, kartu grafis Intel GMA X3100 serta hardisk berkapasitas 80-120 GB.

Sementara model lainnya, dilengkapi prosesor Intel Core 2 Duo, kartu grafis NVIDIA GeForce 9300M, hardisk SATA 2,5 inch dengan kapasitas mulai 160 GB hingga 320 GB.

Sebagai tambahan, Asus juga menyediakan seri laptop bambu yang dilengkapi dengan teknologi Super Hybrid Engine. Dengan teknologi ini dapat meningkatkan daya tahan baterai lebih dari 70% serta performa sistem hingga 23%.

Sayangnya, produsen PC asal Taiwan ini masih belum mengungkap berapa harga yang dibanderol untuk satu unit dari laptop ini. (kilasberita.com/als/dtc)


    Aksi Internal Ramah Lingkungan


    1. Hemat Kertas Menuju ‘Paperless’
    2. Hemat Air
    3. Hemat Listrik
    4. Pemilahan Sampah Organik dan Non Organik
    5. Tidak Merokok di Tempat Kerja
    6. Pembuatan Biopori di Lingkungan Kantor
    7. Penggunaan Energi Alternatif Bagi BTS
    8. Green Office